Saturday 24th of February 2024
×

Mitos Pesugihan Gunung Lawu di Malang Dibantah Warga, Orang Berdatangan Hanya untuk Ziarah!

Mitos Pesugihan Gunung Lawu di Malang Dibantah Warga, Orang Berdatangan Hanya untuk Ziarah!

--

OTONITY.com - Pada artikel kali ini kami akan membagikan informasi terkait dengan Gunung Lawu yang dipercaya sebagai tempat untuk mencari pesugihan dalam usaha hingga politik. Namun hal itu langsung dibantah oleh warga sekita. Bagaimana ceritanya? simak lengkapnya dibawah ini.

Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, sering menjadi fokus orang-orang yang melaksanakan pesugihan, upacara ritual dengan harapan untuk memperoleh kekayaan atau kekuasaan. Mitos mengenai pesugihan tersebar dengan cepat, dan hal ini mengakibatkan terus meningkatnya jumlah pengunjung.


Suwardono, seorang sejarawan asal Malang, menjelaskan bahwa Gunung Kawi menjadi dikenal sebagai lokasi pesugihan karena tradisi orang-orang yang datang untuk berziarah, bermeditasi, dan berdoa di sekitar makam yang berada di gunung tersebut.

Beberapa kompleks makam yang menjadi tujuan utama para peziarah adalah makam Toenggol Manik Djaja Ningrat, Toenggol Wati di Keraton Gunung Kawi, dan makam Eyang Jugo di Pesarean Gunung Kawi.

Baca juga: Viral! Apa Itu Tantangan NNN (No Nut November) yang Sering Dibahas Netizen? Buat Pria Begini Aturan Mainnya!

Baca juga: Motor Baru Honda Cuma 16 Juta? Honda Supra X Matik Resmi Meluncur, Warganet: Malah Mirip Tossa Matik

Baca juga: Setelan Touring! Honda Supra X Matik Resmi Meluncur Bakal Lebih Irit dari Honda Beat, Cocok Untuk Ojol Nih

"Banyak orang yang akhirnya bertafakur, banyak orang yang menepi. Akhirnya lama-lama kan bisa didatangi banyak orang, ketika orang merasa sukses, akhirnya dibangun," kata Suwardono

Dari sinilah informasi mengenai kesuksesan mereka yang meresapi pengalaman di Gunung Kawi menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Mereka yang mencapai kesuksesan sering kembali ke Gunung Kawi.

"Itu istilahnya bertafakur di sana, merasa berhasil usahanya itu entah dari situ atau karena entah giatnya berusaha, paling nggak kan punya ujar, saya akan kembali," ucapnya.

Suwardono mengakui bahwa dia tidak memiliki informasi pasti tentang sejak kapan keraton itu didirikan, namun ia mengusulkan bahwa bangunan tersebut mungkin lebih modern dan tidak berkaitan dengan periode Hindu Buddha, mengingat makam-makam di Gunung Kawi memiliki ciri arsitektur Islam.

Sumber:

UPDATE TERBARU