PT GNI Milik Siapa? Kini Terancam Bangkrut Usai PHK 1.900 Karyawan di Morowali Utara!
--
Meskipun terjadi perubahan kepemilikan, kondisi keuangan PT GNI belum pulih. Manajemen bahkan telah mengumumkan rencana inisiatif pemangkasan biaya besar-besaran yang mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.900 pekerja.
Read more: Kronologi Dugaan Pelecehan di KRL Tujuan Bogor Ditanggapi KCL, Pendalaman Kasus Kini Dilakukan!
Rencana ini tertuang dalam surat (nomor referensi 4760/Eksternal/HRD/GNI-SITE/2026) yang diterbitkan pada 1 Agustus 2026. Surat tersebut menyatakan bahwa perusahaan saat ini sedang menjalani proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sementara di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
"Keputusan ini diambil setelah melalui pertimbangan yang matang dan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi perusahaan yang mengharuskan kami melakukan rasionalisasi jumlah pekerja agar operasional perusahaan dapat terus berjalan," tulis manajemen GNI.
Perusahaan menjelaskan bahwa langkah-langkah efisiensi ini diambil untuk menekan biaya operasional dan menjaga kelangsungan bisnis. Biaya tenaga kerja diidentifikasi sebagai komponen pengeluaran utama yang perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan perusahaan.
Sebelum memutuskan langkah PHK, GNI mengklaim telah menjajaki berbagai opsi lain, mulai dari pemangkasan biaya operasional, pembekuan perekrutan, dan pengurangan jam lembur, hingga penyesuaian jam kerja serta penugasan ulang karyawan. Namun, langkah-langkah tersebut dinilai tidak cukup untuk memulihkan posisi keuangan perusahaan.
Read more: Kronologi Dugaan Pelecehan di KRL Tujuan Bogor Ditanggapi KCL, Pendalaman Kasus Kini Dilakukan!
Saat ini, PT GNI mempekerjakan total 6.325 pekerja. Setelah melakukan tinjauan operasional, perusahaan memutuskan hanya membutuhkan tenaga kerja yang diperlukan untuk mengoperasikan satu fasilitas smelter dan satu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Kendati demikian, manajemen menyatakan akan memprioritaskan perekrutan kembali karyawan yang terdampak apabila kondisi keuangan perusahaan membaik dan operasional kembali normal.