Friday 20th of February 2026
×

Siapa Jang Jiboy? Konten Kreator Indonesia yang Viral Dituduh Pelecehan gara-gara Kata 'Cilor' di Bus Korea

Siapa Jang Jiboy? Konten Kreator Indonesia yang Viral Dituduh Pelecehan gara-gara Kata 'Cilor' di Bus Korea

--

Akibatnya, akun Instagram Jang Jiboy yang sempat memiliki lebih dari 9.000 pengikut langsung menghilang dari platform, kemungkinan karena dihapus sendiri atau diblokir akibat laporan massal. Netizen Korea mengecamnya sebagai tindakan pelecehan seksual terhadap minor, sementara netizen Indonesia membela dengan menjelaskan bahwa ini hanyalah kesalahpahaman budaya dan bahasa, bukan niat jahat.

Read more: Sinopsis In Your Radiant Season, Colabs Paling Ditunggu Pecinta Drakor Lee Sung-kyung & Chae Jong-hyeop

Read more: Panduan Lengkap Cara Main Nego Neko di Shopee: Dapatkan Koin hingga 1 Juta Dengan Mudah Pakai Cara Ini!

Kasus Jang Jiboy

Kasus Jang Jiboy menjadi trending topic di X dengan hashtag terkait "cilor" yang mendadak populer, bahkan memicu gelombang meme dan dukungan dari komunitas Indonesia yang menyebut tuduhan itu "hoaks" atau "sotoy" (sok tahu). Beberapa netizen Korea akhirnya mengakui mistranslation setelah penjelasan dari INetz, tapi kerusakan reputasi sudah terjadi. Insiden ini juga memperburuk tensi antara Knetz dan SEAblings, di mana isu-isu sebelumnya seperti stereotip tentang pekerja migran Indonesia di Korea atau konflik fandom K-pop ikut terbawa.

Jang Jiboy sendiri diketahui sebagai warga asal Jawa Barat yang bekerja di Korea Selatan—diduga di perusahaan seperti Seyang Natural Aechang berdasarkan narasi tuduhan—dan sempat aktif membuat konten ringan di media sosial. Ia bukan figur publik besar seperti YouTuber selebriti, melainkan individu biasa yang kontennya tiba-tiba meledak karena konteks perang komentar antarnegara.


Read more: Link Video Andira McQueen 1 Menit 25 Detik Viral di TikTok dan X: Profil Selebgram Makassar dan Fakta Sebenarnya

Kejadian ini menjadi pengingat penting tentang sensitivitas bahasa dan budaya di platform global. Apa yang lucu di satu negara bisa disalahartikan sebagai pelecehan di negara lain, terutama ketika melibatkan perekaman orang asing tanpa izin. Bagi content creator atau siapa pun yang aktif di media sosial internasional, memahami konteks lintas budaya dan menghindari konten yang berpotensi ambigu menjadi krusial untuk mencegah eskalasi serupa. Semoga kasus ini berakhir sebagai lelucon viral yang mengajarkan toleransi, bukan konflik berkepanjangan antar komunitas online. Di tengah globalisasi digital, kesalahpahaman kecil bisa menjadi bom waktu—mari lebih bijak dalam berkomunikasi!

Sumber:

UPDATE TERBARU