Seruan Boikot Bank Mandiri Memanas, Imbas Pemblokiran Rekening Aktivis Pati Hingga Pencopotan Papan Nama di Gedung Jakarta!
--
Para pimpinan DPR juga membela bank tersebut, seraya menyatakan keyakinan bahwa Himbara (himpunan bank milik negara) tidak akan bertindak secara sepihak. Namun, masalahnya adalah publik tidak sedang menghitung keuntungan; mereka sedang menakar rasa aman mereka.
Sebab, pertanyaan yang paling sederhana sering kali justru yang paling meresahkan: "Kalau hari ini uang orang lain bisa ditunda, besok uang saya bagaimana?"
Read more: Prabowo Turun Langsung ke Kalimantan, Tinjau dan Pimpin Penanganan Karhutla
Itulah sebabnya Bank Mandiri kini harus menanggung akibatnya. Masalahnya bukan terletak pada besaran dana Rp80,9 juta yang dianggap signifikan bagi sebuah bank, melainkan karena jumlah tersebut telah menjadi simbol—simbol yang merepresentasikan uang masyarakat, para pejabat, pihak bank, hukum, dan kepercayaan, yang semuanya terjebak dalam situasi penuh ketegangan.
Dana tersebut mungkin akan segera dapat digunakan kembali. Harga saham bisa saja kembali naik. Warganet mungkin akan beralih membahas topik lain. Namun, begitu kepercayaan telah hilang dan pergi, jangan berharap ia akan kembali hanya karena adanya tawaran cashback.
Bank Mandiri sedang menghadapi momen pembuktian. Jika masyarakat mulai menyerukan boikot secara massal, mungkin yang perlu dicermati bukan sekadar rekening banknya, melainkan juga alasan mengapa kepercayaan itu sendiri akhirnya ikut membeku.