Inilah Sosok Louice Cristiana Mangontan Viral, Usai Ucap 'Kalau Tau Bau, Kenapa Tetap Dimakan!'
--
OTONITY.com - Pernyataan yang disampaikan oleh mitra Unit Layanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makale Batupapan 1 dalam rapat dengar pendapat DPRD Tana Toraja telah viral dan menyita perhatian luas.
Dalam rapat yang digelar pada Jumat, 4 September 2026, mitra SPPG bernama Louice Cristiana Mangontan justru melimpahkan kesalahan kepada para siswa yang jatuh sakit. Dalam potongan video yang diunggah oleh akun Instagram @undercover.id, wanita yang akrab disapa Lusi itu mempertanyakan keputusan para siswa saat itu.
Ia menyebutkan bahwa sebelum insiden keracunan terjadi, ia mendengar kabar adanya keluhan dari sejumlah siswa mengenai aroma tidak sedap pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka terima.
"Ada eh berbagai informasi yang katanya mau makan sudah bau busuk," ujar Lusi.
Mengetahui adanya keluhan siswa terkait bau tak sedap tersebut, Lusi mempertanyakan alasan makanan itu tetap dikonsumsi.
"Kalau tahu sudah bau, kenapa tetap dimakan, tabe?" tanya Lusi sembari memukul meja di ruang sidang paripurna DPRD Tana Toraja.
Pernyataan Lusi tersebut sontak viral dan memicu kritik dari masyarakat di media sosial.
Sosok Louice Cristiana Mangontan
Informasi yang dilansir dari kilat.com, Louice Cristiana Mangontan merupakan pimpinan Yayasan Magnolia Champaca Virginiana. Yayasan yang dipimpin oleh Lusi ini bertindak sebagai mitra bagi SPPG Makale Batupapan 1. Nama yayasan yang dipimpin Lusi ini sebenarnya sudah tidak asing lagi.
Pada April 2026, SPPG Makale Batupapan—yang dikelola di bawah naungan yayasan Lusi—termasuk dalam daftar 136 dapur MBG di Sulawesi Selatan yang operasionalnya dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Penghentian ini dilakukan akibat masalah kepatuhan terhadap standar, seperti Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Lusi dan program SPPG yang dikelola yayasannya kembali menjadi sorotan menyusul rapat dengar pendapat dengan DPRD Tana Toraja pada hari Jumat, 4 September 2026.
Pertemuan tersebut membahas dugaan insiden keracunan massal yang terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang berdampak pada sekitar 156 hingga 165 siswa dan guru. Para korban dilarikan ke tiga rumah sakit—RSUD Lakipadada, Rumah Sakit Sinar Kasih, dan Rumah Sakit Fatima—setelah mengalami gejala seperti mual, pusing, dan muntah.