IHSG Anjlok 11,57 Persen ke Level 5.185 Akibat Panik Usulan MSCI, Indeks Saham Gabungan Anjlok Terparah Sejak 1998
--
OTONITY - Pasar modal Indonesia mencatatkan hari kelam setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan yang sangat ekstrem pada sesi perdagangan. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut ambruk hingga 11,57 persen dan terhempas ke level psikologis baru di posisi 5.185. Kejatuhan dramatis ini dipicu oleh pengumuman mengejutkan dari penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang membuka wacana untuk meninjau ulang serta berpotensi menurunkan status klasifikasi pasar modal Indonesia. Read more: Kronologi Penyerangan 1 Keluarga di Brebes, Berawal dari Cekcok Hingga Berani Bacok! Kepanikan pasar sudah terlihat sejak bel pembukaan perdagangan dimulai. IHSG langsung dibuka merosot tajam sebesar 8,01 persen ke level 5.393,924 dengan koreksi instan sebesar 469,856 poin. Tekanan jual masif yang terus bergulir memaksa otoritas bursa mengaktifkan protokol kedaruratan berupa penghentian sementara perdagangan atau *trading halt* guna meredam volatilitas yang semakin liar. Namun, setelah perdagangan dibuka kembali, aksi jual bersih (*net sell*) oleh investor domestik maupun asing justru semakin tak terbendung hingga indeks menyentuh titik terendah hariannya di level 5.193,222 sebelum akhirnya ditutup sedikit di bawah level tersebut. Data transaksi resmi dari BEI menunjukkan aktivitas perdagangan harian yang sangat masif, mencapai volume 59,401 miliar lembar saham dengan akumulasi nilai transaksi menembus angka Rp 22,635 triliun. Frekuensi perdagangan juga melonjak drastis hingga menyentuh 1.770.679 kali transaksi akibat kepanikan massal para pelaku pasar. Dominasi warna merah menyelimuti papan perdagangan bursa, di mana sebanyak 777 saham tercatat mengalami penurunan harga yang signifikan. Sebaliknya, hanya ada 13 saham yang mampu bertahan di zona hijau dan dua saham bergerak stagnan tanpa perubahan harga. Kejatuhan massal ini seketika menggerus nilai kapitalisasi pasar (market cap) bursa saham domestik hingga jatuh di bawah level Rp 15.000 triliun.