Tuesday 20th of October 2026
×

Kondisi Terakhir Kamaruddin Simanjuntak Sebelum Meninggal Dunia di Rumah Sakit Pelni, Alami Gejala Napas Berdahak dan Sesak Akut

Kondisi Terakhir Kamaruddin Simanjuntak Sebelum Meninggal Dunia di Rumah Sakit Pelni, Alami Gejala Napas Berdahak dan Sesak Akut

--

Memasuki waktu malam, kondisi kesehatan Kamaruddin mendadak berubah secara drastis dalam hitungan jam. Almarhum tiba-tiba mengalami kesulitan bernapas yang cukup akut.

Dari dadanya terdengar suara mendengkur yang sangat keras, yang setelah diidentifikasi dipicu oleh penumpukan dahak kental yang menyumbat saluran pernapasannya. Kondisi ini membuat almarhum sangat tersiksa karena kesulitan mengeluarkan dahak tersebut secara mandiri.


Read more: IHSG Anjlok 11,57 Persen ke Level 5.185 Akibat Panik Usulan MSCI, Indeks Saham Gabungan Anjlok Terparah Sejak 1998

Melihat kepayahan almarhum, pihak keluarga segera memanggil perawat jaga untuk melakukan pemeriksaan darurat. Ketika alat medis dipasang, kecemasan keluarga terbukti. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tingkat saturasi oksigen di dalam tubuh Kamaruddin telah anjlok drastis ke angka yang sangat membahayakan nyawa. Tubuhnya kekurangan pasokan oksigen akibat sumbatan napas tersebut.

Melihat saturasi oksigen yang terus merosot, tim dokter Rumah Sakit Pelni langsung bergerak cepat melakukan tindakan penyelamatan darurat. Dokter melakukan prosedur resusitasi jantung (pompa jantung) untuk mengembalikan detak jantung dan menstabilkan pernapasannya.

Namun, takdir berkata lain. Tubuh Kamaruddin tidak memberikan respons terhadap tindakan pacu jantung tersebut hingga akhirnya ia dinyatakan meninggal dunia pada Senin dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.

Read more: Kantor BPN Karawang Terbakar Hingga 70% Bangunan Hancur, Apa Penyebabnya?

Tim medis menjelaskan bahwa penurunan kondisi yang sangat masif ini dipicu oleh komplikasi dari penyakit bawaan yang dideritanya. Selama dua tahun terakhir, Kamaruddin rupanya berjuang melawan penyakit gagal ginjal kronis yang mengharuskannya rutin menjalani prosedur cuci darah (hemodialisis) beberapa kali dalam seminggu.

Kondisi ginjal yang melemah ini kemudian diperparah oleh infeksi paru-paru (pneumonia) mendadak, yang memicu penumpukan cairan dan dahak di saluran pernapasannya. Kombinasi komplikasi medis inilah yang menjadi penyebab utama sang pendekar hukum mengembuskan napas terakhirnya.

Sumber:

UPDATE TERBARU