Sentil Transaksi Terkoordinasi, Bos MSCI Jelaskan Alasan RI Terancam Turun Kasta Pasar Saham
--
ROOT OTN - Kondisi pasar modal di Indonesia kini tengah berada di bawah lampu sorot komunitas finansial internasional. Setelah sekian lama memicu spekulasi luas di kalangan pelaku pasar saham domestik, petinggi dari lembaga penyedia indeks global terkemuka, Morgan Stanley Capital International (MSCI), akhirnya resmi buka suara secara blak-blakan.
Penjelasan resmi tersebut disampaikan di tengah maraknya cecaran pertanyaan dari ratusan manajer investasi global yang mengkhawatirkan masa depan kepemilikan aset mereka di tanah air.
Pernyataan menohok itu dilontarkan langsung oleh Managing Director selaku Head of MSCI Research & Development global, Raman Aylur Subramanian. Dalam sebuah forum pertemuan finansial tertutup yang diselenggarakan oleh UBS Group pada Selasa, 20 Oktober 2026, Subramanian memaparkan alasan substantif di balik keputusan mengejutkan MSCI yang secara resmi membuka sesi konsultasi untuk menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kasta Pasar Berkembang (Emerging Market) menjadi Pasar Mandiri (Standalone Market).
Read more: Meluncur! Samsung Galaxy F70 5G, Ini Dia Spesifikasi dan Harga Rilisnya
Dalam pemaparannya yang bocor ke publik, Raman Aylur Subramanian menegaskan bahwa ancaman penurunan status investasi ini sama sekali bukan didasari oleh persoalan teknis formulasional dalam metode penyusunan indeks saham oleh MSCI. Sebaliknya, langkah tegas ini diambil sebagai cerminan dari borok atau masalah struktural mendasar yang terjadi di internal pasar saham Indonesia. MSCI menyorot bahwa realitas tata kelola pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini berada jauh di bawah ekspektasi kelayakan perlindungan dana milik investor institusi global.
Secara spesifik, bos riset MSCI itu menyentil maraknya aktivitas manipulasi harga saham ekstrem yang digerakkan oleh para pemain nakal (bad actors) melalui skema perdagangan terkoordinasi atau yang lebih populer dikenal di pasar domestik dengan istilah aksi "goreng saham" (cornering).
MSCI mencermati adanya sejumlah saham emiten tertentu di Indonesia yang mampu mencatatkan lonjakan harga hingga ribuan persen dalam hitungan bulan tanpa didukung oleh rasionalitas fundamental bisnis yang sehat, yang dinilai merusak ekosistem keadilan pasar.
Selain masalah manipulasi harga, MSCI juga menaruh perhatian serius pada minimnya transparansi terkait peta kepemilikan saham publik yang sesungguhnya (true free float). Banyak emiten besar dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan yang tersembunyi di balik perusahaan cangkang, sehingga membatasi likuiditas dan kedalaman pasar yang bisa diakses secara aman oleh investor asing.