BMKG Peringatkan Dampak Puncak El Nino Kuat dan Perluasan Kemarau Ekstrem di Indonesia, Ini Peta Sebaran Wilayah yang Terdampak
--
Selanjutnya, fase penutup puncak kemarau akan bergeser ke 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen wilayah lainnya pada September . Secara akumulatif, durasi musim kemarau di 437 ZOM dilaporkan akan berlangsung lebih lama akibat pengaruh El Nino kuat yang diproyeksikan bertahan hingga awal tahun depan.
Ancaman Hari Tanpa Hujan Ekstrem dan Krisis Air Bersih
Indikator nyata dari eskalasi dampak El Nino ini ditandai dengan meluasnya fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori sangat panjang hingga ekstrem. Hasil pemantauan stasiun klimatologi daerah mendeteksi sejumlah titik pengamatan di area Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur telah mencatatkan durasi HTH berturut-turut melampaui angka 60 hari tanpa pasokan air hujan sama sekali.
Read more: Apa Akun IG dan TikTok Vira? Pengendara Motor yang Viral Karena Mengamuk Saat Ditilang
Minimnya curah hujan ini secara otomatis menekan volume debit air di sejumlah bendungan utama, waduk, dan sungai-sungai penunjang irigasi pertanian rakyat . Kondisi penurunan ketersediaan cadangan air bersih secara drastis ini mengancam ketahanan pangan akibat potensi kegagalan panen (puso) pada lahan pertanian tadah hujan, serta memperluas krisis air bersih domestik untuk kebutuhan sanitasi rumah tangga masyarakat.
Selain ancaman kekeringan di sektor agraria, penguatan El Nino kuat ini memicu peningkatan eskalasi indeks kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah . Atmosfer udara yang kering disertai tiupan angin kencang khas Monsun Australia meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan , terutama pada area lahan gambut di wilayah rawan seperti Sumatra dan Kalimantan . Akumulasi partikel debu kering dan potensi sebaran asap sisa pembakaran lahan berisiko menurunkan kualitas ambang batas udara bersih secara signifikan .
Merespons dinamika cuaca ekstrem tersebut, otoritas kesehatan bersama BMKG mengimbau masyarakat luas untuk melakukan tindakan mitigasi dini secara mandiri .
Publik diminta bijak dalam melakukan manajemen penghematan air bersih, menghindari aktivitas pembukaan lahan dengan metode pembakaran, serta meningkatkan proteksi kesehatan fisik Penurunan kualitas udara dan paparan suhu panas yang menyengat di siang hari rentan memicu dehidrasi akut, kelelahan fisik (heat exhaustion), hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.