Wednesday 21st of October 2026
×

Aktivis Greenpeace Panjat Patung Selamat Datang Bundaran HI, Bentangkan Spanduk Raksasa Kritik Kebijakan Ekologis

Aktivis Greenpeace Panjat Patung Selamat Datang Bundaran HI, Bentangkan Spanduk Raksasa Kritik Kebijakan Ekologis

--

OTONITY - Kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) yang menjadi jantung aktivitas Ibu Kota mendadak dihebohkan oleh aksi nekat sekelompok aktivis lingkungan hidup. Sejak subuh hari pada Selasa, 20 Oktober 2026, enam orang aktivis dari organisasi Greenpeace Indonesia nekat memanjat Monumen Patung Selamat Datang yang berdiri kokoh di tengah kolam Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Aksi memanjat struktur cagar budaya setinggi puluhan meter tersebut dilakukan guna membentangkan spanduk raksasa serta sejumlah poster berwarna kuning cerah yang berisi kritik tajam serta tuntutan keras kepada pemerintah terkait penanganan krisis iklim global.


Read more: Kabar Duka Hukum Indonesia: Kamaruddin Simanjuntak, Advokat Pemberani Pembela Keluarga Brigadir J yang Kini Telah Meninggal Dunia

Berdasarkan pengamatan di lokasi kejadian, pembentangan spanduk raksasa tersebut mulai terlihat jelas oleh pengguna jalan sekitar pukul 06.05 hingga 06.15 WIB.

Spanduk utama yang digantungkan di bagian atas Patung Selamat Datang memuat tulisan berukuran besar yang berbunyi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam. Sementara poster-poster pendukung lainnya membawa pesan-pesan tertulis seperti "Melindungi lingkungan = Melindungi kualitas hidup". Langkah ini sengaja dipilih oleh Greenpeace sebagai bentuk protes visual tingkat tinggi demi menarik perhatian publik internasional serta para pembuat kebijakan nasional di Jakarta.

Juru Kampanye Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, memberikan penjelasan resmi mengenai latar belakang pelaksanaan aksi simbolik yang ekstrem ini. Pihak Greenpeace menyatakan bahwa aksi protes ini dipicu oleh keprihatinan mendalam atas kondisi perlindungan ekologis di Indonesia yang dirasa kian mengalami kemunduran berat.

Organisasi tersebut menyoroti bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahunan di wilayah Kalimantan dan Sumatera yang telah berlangsung selama empat bulan terakhir tanpa adanya mitigasi konkrit yang komprehensif dari pemerintah, sehingga menyebabkan jutaan hektare habitat satwa langka rusak dan memicu polusi kabut asap beracun yang mengancam kesehatan jutaan warga.

Sumber:

UPDATE TERBARU